Pengajaran dari pernikahan yang tidak seiman
Pernikahan antara orang yang tidak seiman memang menjadi perhatian serius dalam Alkitab, terutama dalam Perjanjian Lama. Banyak contoh dan peringatan yang diberikan oleh Tuhan melalui Musa, para nabi, dan Rasul-rasul
1. Larangan Menikah dengan Bangsa-Bangsa Sekitar
Tuhan secara tegas melarang bangsa Israel menikah dengan bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka, terutama karena hal itu akan membuat mereka meninggalkan Tuhan Allah.
Ulangan 7:3-4
Janganlah juga kamu kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, misalnya anak perempuan mereka jangan ambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada Allah yang lain. Maka murka Tuhan akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.
Pengajaran:
Penyembahan kepada Tuhan adalah inti identitas orang Israel. Menikah dengan orang yang tidak seiman sama dengan menyembah Allah yang lain.
2. Raja Salomo yang Jatuh Karena Istri-Istri Asing
Salomo, raja yang sangat bijaksana,
1 Raja-raja 11:1-4
Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu Tuhan telah berfirman kepada orang Israel: ”Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, karena sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada Allah-allah mereka.” Hati Salomo telah menyampaikan kepada mereka dengan cinta.
Pengajaran:
Bahkan orang yang paling bijaksana pun bisa jatuh jika melanggar prinsip iman. Pengaruh spiritual dari pasangan yang tidak seiman bisa sangat kuat
3. Pemulihan di Zaman Ezra: Perceraian dari Istri-Istri Asing
Setelah pembuangan, bangsa Israel kembali ke Yerusalem. Namun, banyak dari mereka yang menikah dengan perempuan dari bangsa-bangsa kafir, yang menyebabkan dosa kolektif.
Ezra 9:1-2
“Sesudah semuanya itu terlaksana datanglah para pemuka mendekati aku dan berkata: ”Orang-orang Israel awam, para imam dan orang-orang Lewi tidak memisahkan diri dari masyarakat negeri dengan segala kekejiannya, yakni dari orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Yebus, orang Amon, orang Moab, orang Mesir dan orang Amori. Karena mereka telah mengambil isteri dari antara anak perempuan orang-orang itu untuk diri mereka sendiri dan untuk anak-anak mereka, sehingga bercampurlah benih yang kudus dengan penduduk negeri, bahkan para pemuka dan penguasa yang lebih dulu melakukan perbuatan tidak setia itu.”
Ezra 10:3
Marilah kita sekarang mengikat perjanjian dengan Allah kita, bahwa kita akan mengusir semua perempuan itu dengan anak-anak yang dilahirkan mereka, menurut nasihat tuan dan orang-orang yang gemetar karena perintah Allah kita. Dan biarlah orang bertindak menurut hukum Taurat.
Pengajaran:
Ini merupakan kemurnian iman umat-Nya. Meskipun keputusan ini menyakitkan, itu dilakukan untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan dan mencegah penyembahan berhala.
4. Prinsip Rohani: Pemisahan dari Dunia
Allah memanggil umat-Nya untuk kudus dan terpisah dari dunia dalam hal ibadah dan gaya hidup.
2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Mengapa persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang bisa bersatu dengan gelap?
Pengajaran:
Pernikahan bukan sekedar hubungan manusia, tapi hubungan spiritual yang mendalam. Ketika satu pihak mengenal Tuhan, pihak yang lain juga harus sama yaitu mengenal Tuhan. Sama-sama hidup dalam terang kasih Tuhan
Kesimpulan
Tuhan marah bukan karena perbedaan suku, tapi karena bahaya penyembahan berhala dan penyesatan rohani.
Pernikahan
Pengaruh pasangan sangat besar dalam kehidupan rohani.
Salomo adalah bukti bahwa kebijaksanaan tidak cukup melawan pengaruh negatif dari hubungan yang tidak seiman.
Iman harus dipelihara sebagai prioritas utama.
Umat Tuhan dipanggil untuk hidup kudus dan setia kepada-Nya. Pernikahan harus memperkuat iman, bukan meningkatkannya.
Tuhan menghendaki kesatuan dalam iman.
Dalam pernikahan, doa menjadi satu (Kejadian 2:24). Namun, kesatuan rohani hanya mungkin jika keduanya mengenal dan mengikuti Tuhan.
Nasihat bagi Orang Percaya:
Pilihlah pasangan yang sama-sama mengenal dan mencintai Tuhan.
Jangan biarkan perasaan atau keinginan duniawi mengalahkan prinsip iman.
Doakan dan carilah pasangan yang membawa kamu lebih membawa kamu lebih dekat kepada Tuhan, bukan menjauhkannya.

Komentar
Posting Komentar