Gaya Hidup Seperti Yesus - Kolose 3:1-4

 

Ayat ini mengajak kita untuk melakukan perubahan paradigma dalam kehidupan dari dunia yang fana menuju realitas surga yang kekal. Paulus menulis kepada jemaat di Kolose bahwa karena mereka telah "dibangkitkan bersama dengan Kristus", maka cara hidup mereka harus mencerminkan identitas baru mereka di dalam Dia.

1. Hidup yang Diangkat ke Atas

Kita bukan lagi milik dunia ini sepenuhnya. Dalam baptisan, kita mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersama-Nya (Roma 6:4). Artinya, kita bukan lagi orang yang sama seperti sebelum mengenal Yesus. Gaya hidup kita sekarang harus mencerminkan kenyataan bahwa kita telah diangkat bersama Kristus ke tempat yang tinggi—di sebelah kanan Bapa.

Tapi seringkali, kita masih hidup seperti orang yang "di bumi": sibuk mengejar uang, popularitas, kesenangan sesaat, atau pengakuan manusia. Padahal, Paulus mengingatkan: “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Ini bukan berarti kita mengabaikan tanggung jawab duniawi, tetapi bahwa hati dan tujuan kita harus diatur pada hal-hal yang kekal—kemuliaan Allah, kasih, kebenaran, kedamaian sejahtera, dan pertumbuhan rohani.

2. Identitas yang Tersembunyi di Dalam Kristus

Ayat 3 berkata: "Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah." Ini adalah kebenaran yang indah. Dunia mungkin tidak memandang nilai kita, mungkin meremehkan iman kita, tetapi di dalam Allah, kita memiliki identitas yang mulia sebagai anak-anak-Nya, ciptaan baru, milik Kristus.

Ketika kita merasa lelah, gagal, atau tidak bersemangat, ketenangan: hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian manusia, tetapi oleh kasih Allah yang bersembunyi kita di dalam Kristus. Kita aman, dikasihi, dan dipanggil untuk kemuliaan.

3. Harapan yang Akan Dinyatakan

Akhir dari ayat ini adalah janji yang menghibur: "Apabila Kristus... menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan." Gaya hidup kita sekarang adalah latihan untuk kemuliaan yang akan datang. Setiap kali kita memilih kasih daripada dendam, kesabaran daripada kemarahan, kerendahan hati daripada kesombongan—kita sedang melatih diri untuk hidup dalam kemuliaan-Nya.

Yesus hidup dalam kerendahan, pelayanan, dan ketaatan total kepada Bapa. Ia tidak mencari kemuliaan duniawi, tetapi kemuliaan dari Allah. Dan pada akhirnya, Ia ditinggikan (Filipi 2:9-11). Kita pun dipanggil untuk meneladani-Nya: hidup dalam kerendahan hati, tetapi berpegang pada harapan kesejahteraan yang akan datang.

Aplikasi Praktis:

Apa yang saya pikirkan setiap hari? Apakah pikiran saya dipenuhi oleh kekhawatiran duniawi, atau oleh doa, firman, dan hal-hal yang kudus?

Di mana saya mencari identitas saya? Apakah dari pekerjaan, penampilan, atau pujian orang? Atau dari kebenaran bahwa saya tersembunyi di dalam Kristus?

Apa yang saya kejar? Harta, kekuasaan, kesenangan? Atau kedekatan dengan Allah dan kehendak-Nya?

Penutup:

Hidup seperti Yesus bukan berarti hidup sempurna tanpa dosa, tetapi hidup yang terus-menerus dipusatkan pada Dia . Seperti Yesus, kita belajar untuk hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk kemuliaan Bapa. Seperti Yesus, kita memilih ketaatan meski sulit. Seperti Yesus, kita mengasihi bahkan ketika tidak dihargai.

Mari kita hidup bukan untuk dunia yang fana, tetapi untuk kerajaan yang kekal. Karena hidup kita sudah tersembunyi di dalam Kristus—dan suatu hari nanti, kita akan muncul bersama Dia dalam kemuliaan.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengajaran dari pernikahan yang tidak seiman

KERJAKAN KESELAMATANMU (Filipi 2 :12-13)